PROBLEMATIKA PENGAJARAN BAHASA INDONESIA
Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku yang tinggal di beberapa
pulau. Negara Indonesia memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat penting
kedudukannya dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, Bahasa
Indonesia diajarkan sejak kelas 1. Bahasa Indonesia sebagai alat
komunikasi yang dijadikan status sebagai bahasa persatuan sangat penting
untuk diajarkan sejak anak-anak. Bahasa Indonesia tidak akan terlepas
dari kebudayaan bangsa Indonesia karena bahasa Indonesia dijadikan alat
berkomunikasi dengan berbagai suku di tanah air. Bahasa Indonesia memang
diajarkan sejak anak-anak, tetapi model pengajaran yang baik dan benar
tidak banyak dilakukan oleh seorang pengajar. Metode pengajaran bahasa
Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia
sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi
sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu
dilakukan. Pencarian penulis di beberapa artikel baik melalui internet
mapun perpustakaan daerah belum banyak ditemukan hasil-hasil penelitian
metode terbaik pengajaran bahasa Indonesia. Pengajar Bahasa memiliki
suatu kewajiban untuk mempertahankan keberadaan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan sekaligus memperjuangkan Bahasa Indonesia dapat
diterima dan membuat tertarik bangsa lain untuk mempelajarinya. Oleh
sebab itu, pengajaran yang baik menjadi tanggung jawab para pengajar
bahasa. Demokratisasi pembelajaran, yang beberapa waktu lalu
dipromosikan melalui pendekatan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang
direvisi menjadi kurikulum 2006, telah membawa tantangan baru bagi
profesi guru. Menurut Komisi Internasional tentang Pendidikan di Abad
ke-21 UNESCO (Delors, 1996) aneka perubahan besar dalam ilmu dan
teknologi dewasa berimplikasi pada penyiapan tenaga guru. Di abad ini
sumber-sumber informasi telah berkembang pesat di luar sekolah dengan
cara yang begitu menarik dan ketika memasuki sekolah siswa sudah
memiliki kekayaan informasi itu. Pesan-pesan media yang dikemas dalam
bentuk hiburan, iklan, atau berita sungguh menarik para siswa dan ini
bertolak belakang dengan pesan-pesan yang dikemas para guru dalam
pembelajaran di kelas. (Republika, 2004). Pada pembelajaran Bahasa
Indonesia di tingkat sekolah dasar / madrasah ibtidaiyah sangat
mengandalkan penggunaan metode-metode yang aplikatif dan menarik.
Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah
mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa ibu.
Apabila siswa sudah tertarik dengan pembelajaran maka akan dengan mudah
meningkatkan prestasi siswa dalam bidang bahasa. Di sebagian siswa,
pembelajaran Bahasa Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah
merasa bisa dan penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara
tidak langsung siswa menjadi lemah dalam penangkapan materi tersebut.
Penulis sebagai guru Bahasa Indonesia sangat merasakan problem
pembelajaran yang terjadi selama ini. Penulis juga menemui kasus serupa
ketika berada di daerah kabupaten yang terpencil sangat kurang sekali
penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh sebab itu, penulis
berusaha melakukan perubahan-perubahan dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di dalam kelas. Salah satu perubahan yang dilakukan dengan
menggunakan metode role play dan metode STAD (student teams achievement
division) dalam standart kompetensi berbicara dan membaca. Dalam
pembelajaran Menceritakan Kegemaran, dapat dilakukan dengan menggunakan
metode role play sehingga menjadikan siswa lebih aktif. Metode role play
memahami bahasa sebagai keterampilan berbicara secara langsung dengan
berdasarkan kehidupan siswa dalam masayarakat. Metode role play sangat
cocok diterapkan ketika pengajar melakukan pembelajaran berbicara dengan
dibantu dengan kartu peran. Pertama-tama, siswa dibagi dua kelompok
dengan jumlah yang sama. Sebelumnya pengajar menyediakan kartu peran dua
macam yang berbeda warna sebanyak jumlah siswa. Dalam kartu peran
tersebut sudah diberi tanda atau tulisan siapa yang menjadi lawan
bicaranya. Siswa yang lain mencari pasangan bicaranya. Setelah
menemukan, siswa yang mencari tersebut berusaha untuk mengorek
keterangan tentang kegemarannya dengan menggunakan pertanyaan yang sudah
disediakan di kartu perannya (boleh ditambah sendiri), tetapi siswa
yang diajak bicara diberi tahu supaya jangan menjawan secara langsung
kegemaran dirinya. Dengan kegiatan ini, siswa saling berusaha untuk
mencari dan memainkan strategi untuk mengetahui kegemaran teman
bicaranya. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Setelah selesai
melakukan kegiatan tersebut, pengajar memberikan pengarahan sekaligus
bertanya jawab tentang kegiatan yang sudah dilakukan. Siswa yang dapat
mengetahui kegemaran lawan bicaranya diberi penghargaan. Dalam
pembelajaran membaca dapat memakai metode STAD sebagai kegiatan memacu
anak-anak memahami bacaan dengan cara diskusi kelompok. Teori STAD
(student teams achievement division) merupakan metode yang menekankan
kepada kerja sama kelompok untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dalam
metode ini, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat atau
lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis
kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, siswa bekerja dalam tim
mereka untuk memastikan seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran
tersebut. Saat belajar berkelompok, siswa saling membantu untuk
menuntaskan materi yang dipelajari. Guru memantau dan mengelilingi tiap
kelompok untuk melihat adanya kemungkinan siswa yang memerlukan bantuan
guru. Metode ini pun dibantu oleh metode pelatihan, penugasan, dan tanya
jawab sesuai satuan pelajaran sehingga ketuntasan materi dapat terwujud
(Her World Indonesia edisi Maret 2005, halaman 190 – 1). Untuk
memudahkan penerapannya, guru perlu membaca tugas-tugas yang harus
dikerjakan tim, antara lain: a. Meminta anggota tim bekerja sama
mengatur meja dan kursi, serta memberikan siswa kesempatan sekitar 10
menit untuk memilih nama tim mereka atau ditentukan menurut kesesuaian
b. Membangkitkan lembar kerja siswa (LKS) c. Menganjurkan kepada siswa
pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau tiga pasangan dalam
satu kelompok) d. Memberikan penekanan kepada siswa bahwa LKS itu untuk
belajar, bukan untuk sekadar diisi dan dikumpulkan. Karena itu penting
bagi siswa diberi lembar kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan
mereka pada saat mereka belajar e. Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk saling menjelaskan jawaban mereka, tidak hanya mencocokkan jawaban
mereka dengan lembar kunci jawaban tersebut f. Apabila siswa memiliki
pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada teman atau
satu timnya sebelum menanyakan kepada guru g. Pada saat siswa bekerja
dalam tim, guru berkeliling dalam kelas, sambil memberikan pujian kepada
tim yang bekerja baik dan secara bergantian guru duduk bersama tim
untuk memperhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu bekerja h.
Memberikan penekanan kepada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri
kegiatan belajar sampai dapat menjawab dengan benar soal-soal kuis yang
ditanyakan. Hasil kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode
STAD didapatkan nilai rata-rata 8,31, daya serap 80,31, dan kategori
bekerhasilan 70 – 95 persen. Dibandingkan dengan kegiatan belajar
mengajar tanpa mengunakan metode STAD hanya memperoleh hasil berupa
nilai rata-rata 6,37, daya serap 60,37 persen dari target 100 persen,
kategori bekerhasilan 50 – 70 persen. Nilai pembanding atau peningkatan
STAD rata-rata 1,94 dari 35 siswa kelas 2. Karena itu disimpulkan,
penggunaan metode ini dipandang lebih berhasil dan nyata meningkatkan
mutu pembelajaran membaca pemahaman (sumber: republika online).
Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis telah melakukan uji coba
dengan menggunakan metode STAD. Penulis menggunakan materi membaca
efektif yang didalamnya mencari pokok pikiran tiap paragrap serta
mencari arti kata-kata sulit. Siswa dibagi menjadi kelompok kecil
sekitar 3-4 orang. Pengajar membagikan kertas LKS dan bacaan ke setiap
kelompok. Tiap kelompok membahas dan mencari pemahaman wacana, pokok
pikiran, serta kata-kata sulit dalam satu kelompok tersebut. Pengajar
meminimalkan memmberikan instruksi atau penjelasan kepada siswa, biarkan
tiap kelompok mencari dan menemukan sendiri pemecahan masalah yang ada
di LKS. Setelah itu, di akhir pelajaran tiap kelompok melakukan diskusi
tentang hasil kerja kelompoknya dengan kelompok lainnya dengan bimbingan
pengajar. Semoga tulisan ini menjadi sebuah wacana baru bagi pengajaran
Bahasa Indonesia yang bagi sebagaian siswa merupakan pelajaran yang
sangat membosankan. Tulisan ini bukan sebagai akhir dari sebuah
pencarian metode pembelajaran yang terbaik guna meningkatkan kualitas
siswa. Manusia tanpa cinta bagai pohon yang tidak berbuah, guru tanpa
belajar bagai rumah tanpa tiang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar